Hoaks di Facebook Masih Merajalela, Publik Diimbau Tidak Asal Percaya

  


CentangDigital - Perkembangan teknologi digital yang pesat membuat media sosial menjadi salah satu sumber utama masyarakat dalam memperoleh informasi. Facebook, misalnya, kini tidak hanya menjadi tempat berinteraksi, tetapi juga menjadi ruang bagi penyebaran berita, pengetahuan, hingga berbagai konten hiburan.


Selain itu, platform ini juga dimanfaatkan sebagian pengguna untuk memperoleh penghasilan. Facebook bahkan telah menghadirkan fitur Professional Mode atau Dasbor Profesional bagi para kreator sejak 31 Oktober 2022. Fitur ini memungkinkan pengguna mengembangkan konten sekaligus membuka peluang monetisasi di platform tersebut.


Seiring waktu, fitur Professional Mode juga semakin meluas dan dapat diakses oleh lebih banyak pengguna, termasuk di Indonesia. Bahkan dalam kondisi tertentu, sebagian pengguna dapat mengakses Facebook tanpa menggunakan kuota internet melalui kerja sama operator. Hal ini menjadikan Facebook sebagai salah satu platform yang sangat efektif untuk menyebarkan berbagai cerita dan informasi kepada masyarakat luas.


Namun di balik kemudahan tersebut, masyarakat juga dihadapkan pada tantangan baru, yakni maraknya penyebaran informasi yang belum tentu benar. Oleh karena itu, pengguna media sosial diharapkan mampu mempertimbangkan dengan bijak setiap informasi yang beredar, apakah benar atau hanya sekadar hoaks.


Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) juga turut memperumit situasi. Saat ini banyak video maupun gambar yang tampak sangat nyata sehingga sulit dibedakan antara yang asli dan yang merupakan hasil rekayasa teknologi. Kondisi ini membuat penyebaran informasi palsu menjadi semakin mudah terjadi, bahkan sering kali dilakukan demi popularitas atau keuntungan semata.


Di tengah perubahan tersebut, masyarakat dituntut untuk mampu beradaptasi dengan kondisi media sosial yang terus berkembang. Informasi yang diterima sebaiknya tidak langsung dipercaya begitu saja, melainkan perlu disaring dan ditelusuri terlebih dahulu sumber kebenarannya.


Selain masalah hoaks, media sosial juga dipenuhi berbagai konten yang tidak selalu layak untuk ditiru. Sebagian konten dibuat semata-mata untuk hiburan, bahkan ada yang memanfaatkan teknologi AI untuk menciptakan skenario tertentu. Karena itu, masyarakat diimbau untuk tidak mudah terpengaruh oleh konten yang berperilaku negatif atau tidak senonoh.


Konten yang tidak pantas juga semakin mudah ditemukan di berbagai platform digital. Oleh sebab itu, peran orang tua sangat penting dalam mengawasi penggunaan gawai oleh anak-anak. Anak-anak sebaiknya tidak dibiarkan menggunakan ponsel secara berlebihan atau tanpa pengawasan, mengingat banyak konten di media sosial yang belum sesuai untuk usia mereka dan berpotensi memengaruhi perkembangan mental serta moral.


Di sisi lain, fenomena viralitas di media sosial juga mendorong sebagian kreator untuk membuat konten yang sensasional demi meraih popularitas dan keuntungan. Tidak jarang informasi yang disampaikan belum tentu benar atau bahkan menyesatkan.


Fenomena tersebut tidak hanya terjadi di Facebook, tetapi juga di berbagai platform lain seperti TikTok dan YouTube. Oleh karena itu, masyarakat diharapkan semakin bijak dalam menggunakan media sosial serta lebih kritis dalam menerima dan membagikan setiap informasi yang beredar.

*

إرسال تعليق (0)
أحدث أقدم